Bukan Sekedar Permainan
Usai
mengikuti pelajaran dan mengaji di kelas, Ulin Nuha 16 tahun, Ahmad
Amin Nuwloh 14 tahun dan belasan temannya bermain sepakbola. Mereka
berlari dan mengolah bola di lapangan futsal yang terletak persis di
belakang sekolah mereka.
Ulin dan Amin adalah siswa Pesantren Quthrotul Falah, di Cikulur, Banten.
Saat
istirahat, dengan air dari ember dan gayung yang sama, mereka melepas
dahaga dan bercerita soal sepak bola. Olahraga ini merupakan menu wajib
usai mengikuti pelajaran di pesantren, ujar Ahmad Amin Nuwloh.
“Suka
main bola. Itu olahraga yang menyenangkan. Hidup tanpa main bola
kayanya agak kurang, karena olahraga, melatih fisik. Setiap minggu
kadang-kadang setiap hari.”
Abdul Aziz (ASA), berbaju merah, memberikan materi di lapangan
“Mungkin
lebih senang saja gitu. Biasanya di sini agak pusing, banyak pelajaran,
apa gitu. Intinya lebih fresh saja pada otak kita.”
Namun, sepakbola ya hanya sepakbola. Tak lebih.
“Saya
kurang tahu mendalam yang kaya gitu. Ia, main bola saja. Belum tahu
isinya. Ternyata di dalam sepakbola itu banyak sekali. Bukan hanya main
bola saja.”
Yang dimaksud Amin adalah nilai lebih dari olahraga itu yang dikenalkan oleh lembaga Search for Common Ground SCG bersama Akademi Sepakbola Asia ASA.
Dua
lembaga ini mengunjungi pesantrennya untuk menggelar pelatihan bertajuk
Sepakbola untuk Perdamaian. Dari sini Ulin mengetahui kalau sepakbola
bukan hanya sekedar permainan.
“Biasanya
kalau latihan tidak begitu, biasanya cuma lari terus passing. Ini mah
latihan dulu, lebih seru. Asik saja sama teman-teman. Ada pengalaman
baru.”
Ada 10 guru olahraga yang
melatih Amin, Ulin dan belasan temannya. Ke-10 guru itu juga telah
mengikuti program Sepakbola untuk Perdamaian. Mereka berasal dari
berbagai sekolah di Kabupaten Lebak.
Diantaranya Wardoyo, guru olahraga SMA Negeri 1 Cikulur dan Razali Hamzah, guru olahraga di MTS Ar Ribathiyah.
Pelatihan di ruang kelas
“Saya siap tiga hari, saya menyatakan siap tiga hari di sini.”
Penanggungjawab
pelatihan dari Akademi Sepakbola Asia Abdul Aziz mengatakan, sepakbola
adalah medium yang efektif untuk meredam konflik. Salah satu materi yang
diberikan adalah relay race.
“Kita
ingin mengenal sebuah konflik. Pertama kita sebut dengan relay race
yang berarti menyusun sebuah kata untuk menjadi sebuah kalimat.
Kalimatnya itu bertujuan untuk negosiasi menuju perdamaian. Karena kalau
kita mempunyai konflik dan tidak bernegosiasi bisa menjadi konflik,
pertikaian. Oleh karena itu, kita mengajarkan kepada mereka mengenal,
utamanya kalau mendapatkan sebuah konflik harus bernegosiasi atau
bermusyawarah agar tidak terjadi permusuhan.”
Selain relay race, Aziz juga mengajarkan simulasi lain yang diberi nama: check in, chek out.
“Check
in, check out ini bertujuan life skill-nya adalah menerima perbedaan
suku, budaya dan bangsa di antara lainnya. Dalam sepakbola ada satu
sentuhan, dua dan tiga sentuhan. Di mana satu kelompok bermain dengan
satu sentuhan dan kelompok lainnya dua sentuhan dan tiga sentuhan.
Kemudian pada saat saya bilang pindah, maka satu orang di tiap timnya
itu, di tiap posnya itu harus pindah satu orang ke pos lain. Maka, nanti
mereka ada di satu posnya itu ada yang satu sentuhan, dua dan tiga
sentuhan dan semuanya itu berbeda-beda tetapi dalam satu pos. Di situ
kita mengajarkan, di sini kita menerima orang lain, dari mana pun dia,
suku, budaya, agama manapun dia, kita tetap menerima dia dengan baik.”
Quthrotul
Falah adalah pesantren ketiga dari 10 pesantren yang sudah disambangi
SCG dan ASA. Sebelumnya pelatihan digelar di Tanggerang, Cirebon, Solo
dan Makassar.
PJ Football for Peace, Maghfiroh Hijroatul memberikan materi di dalam kelas
“Kita
memilih beberapa pesantren dan akhirnya kita menjatuhkan ke 10
pesantren dengan beberapa kriteria. Pastinya pesantren itu berdekatan
dengan daerah yang berdekatan atau beresiko, yang rawan radikalisme,
terorisme. Umpamanya Solo. Kita memilih Solo karena berdekatan dengan
pesantren lain yang menyajikan, apa ya... saya agak sungkan
mengatakannya, produknya teroris. Kemudian di Cirebon, kasus kemarin
pengeboman itu.”
Sepakbola
dipilih karena selain populer, olahraga ini dianggap sebagai media yang
efektif untuk mengatasi konflik dan membangun perdamaian di pesantren.
Mengenal Konflik untuk Meredamnya
Maghfiroh
Hijroatul dari Common Ground sedang mencairkan suasana kelas pada
pertemuan pertama. Ia adalah penangung jawab program Sepakbola untuk
Perdamaian. Di depan kelas, Firoh bertanya, ‘Apa itu konflik?’
Ia pun membacakan jawaban para peserta.
Sebagian
besar peserta mengidentifikasi konflik sebagai perbedaan pendapat,
sikap keras kepala yang berujung pada tindakan destruktif, seperti adu
jotos.
Konflik tidak harus destruktif
atau merusak. Firoh mengatakan, konflik juga memiliki sisi konstruktif
atau membangun, kalau tidak menonjolkan kekerasan dalam menyelesaikan
masalah.
“Bagaimana
proses menyelesaikan konflik adalah alami dan ada di sekitar kita.
Konflik itu tidak hanya kekerasan itu yang paling penting kita utamakan.
Kita membongkar habis asumsi yang ada sekarang ini. Kalau di dua
pesantren yang kemarin, selalu kalau ditanya tentang konflik yang muncul
itu destruktif, yang negatif. Konflik itu berantem, kekerasan, darah.
Pengalaman pelatihan di Makassar menunjukan masih ada asumsi yang keliru soal konflik, lanjut Firoh.
“Ada
pak Ilham. Hari pertama dia memakai kaos yang (bertuliskan -red) Jihad
the Only Solution dengan gambar pistol dan pedang dan kemudian beliau
menggunakan celana tcingkrang, berjenggot. Lagi-lagi, padahal saya sudah
mengerti teorinya, saya tidak boleh berasumsi dulu dan beranggapan
negatif. Bisa-bisa kontra produktif, bisa-bisa tidak berhasil. Ternyata
ketika kita buka, menyosialisasikan latar belakang pelatihan dan
sebagainya. Pertanyaan kritis Pak Ilham adalah mengapa harus pesantren,
pesantren kan tidak ada konflik. Saya sudah deg-degan, waduh apakah
ini.”
Firoh menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati.
“Banyak
orang bilang, mengapa pesantren, pesantren memang sumber teror. Kita
tidak menganggap itu. Kita ingin menyebarluaskan benih-benih toleransi,
perdamaian ke semua penjuru dan elemen masyarakat. Pesantren kan
termasuk komunitas terbesar di Indonesia.”
Di
pinggir lapangan, Maghfiroh menjelaskan peran sepakbola sebagai peredam
potensi konflik. Serta peran penting ustadz, kiai, dan guru pesantren
untuk turut menebar benih toleransi.
“Dengan
ini kita ingin menekan eksekusi kekerasan terhadap penyelesaian
konflik. Jadi mungkin kalau di Banten ini terkait dengan kasus Ahmadiyah
kemarin. Kita berharap dengan ini santri, kyai juga bisa lebih tidak
reaksioner dalam menghadapi perbedaan, dalam menghadapi konflik.”
Pengasuh Pondok Pesantren Quthrotul Falah, Achmad Syatibi Hambali mengapresiasi kegiatan ini.
“Sangat
bagus. Terutama untuk perdamaian. Artinya di mana sekarang banyak hal,
yang kadang-kadang dengan persoalan sedikit jadi persoalan. Dari hal
kecil, jadi persoalan. Dengan adanya (sepakbola untuk –red) perdamiaan,
ini harus digalakan. Baik itu di komunitas muslim, maupun dengan yang
lainnya harus dijaga.”
Achmad Syatibi
Hambali yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak
ini berharap program semacam ini bisa terus dilakukan.
“Itu
sangat penting. Kita intinya harus sama-sama saling menghargai dengan
yang lain, toleran. Jadi kalau kita tidak dididik dengan toleransi ya
kadang-kadang orang itu ingin menang sendiri. Kita terapkan. Artinya
kita harus mau berbeda pendapat dan kita harus menghargai pendapat orang
lain. (Tanpa adu jotos?) Tanpa adu jotos, tanpa ada aksi kekerasan.
Yang rugi kita sendiri. Tujuan tidak bakal tercapai.”
Penanggungjawab
Sepakbola untuk Perdamaian Maghfiroh Hijroatul sadar sosialisasi materi
toleransi ini tidak mudah untuk dilakukan. Namun, ia optimistis program
ini akan mencapai target.
“Saya,
kami dari Common Ground sepertinya sangat optimis bahwa ini lebih
efektif untuk mencapai tujuan kami. Untuk mempromosikan nilai-nilai
toleransi dan transformasi konflik. ”
Peserta
pelatihan Agus Faiz Awaludin siap meneruskan materi toleransi kepada
peserta didik yang ia bimbing di pesantren Quthrotul Falah.
“Kalau
di pondok saya mengajar kitab kuning. Kalau di sekolah saya mengajar
eksak, matematika dan fisika. (di tengah rutinitas kamu mengajar apakah
akan menyisipkan poin yang didapatkan dari pelatihan tadi?) Pasti saya
sisipkan, bisa diterapkan dalam mata pelajaran saya, mungkin bisa saja.”
Belajar toleransi dari sepak bola, membangun perdamaian untuk Indonesia.

